1. Cara memindai personality dibangun atas pilar pengetahuan, perasaan, dan naluri dalam tindakan manusia yaitu dengan cara mengetahui pola tingkah lakunya, tingkah laku disini dalam sangat khusus yang di tentukan oleh nalurinya, dorongan-dorongan dan refleksnya ( tingkah laku yang membabi buta karena tidak terpengaruh dan ditentukan oleh akal dan jiwanya ). Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau tindakan seseorang individu ( yang berada pada setiap individu ) disebut Kepribadian. Seseorang memiliki kepribadian yaitu individu yang memiliki beberapa cirri watak yang diperlihatkan secara konsisten dan konsekuen, yang menyebabkan bahwa ia memiliki identitas yang berbeda dari individu-individu lainnya.

Pilar pengetahuan adalah unsur kepribadian yang mengisis akal dan alam jiwa orang yang sadar dan terkandung di dalam otaknya secara sadar. Seluruh proses akal manusia yang sadar itu disebut persepsi. Unsur kepribadian yang kedua adalah pilar perasaan, yaitu suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengetahuannya dinilai sebagai keadaan yang positif dan negative. Suatu perasaan yang selalu bersifat Subyektif karena adanya unsur penilaian tadi, biasanya menimbulkan kehendak ( mungkin positif atau negatif ) dalam kesadaran seorang individu. Unsur yang ketiga dari kepribadian yaitu pilar naluri, yaitu kesadaran manusia yang mengandung berbagai perasaan lain yang tidak di timbulkan kerena di pengaruhi oleh pengetahuannya. Tetapi karena memang suadah terkandung di dalam organismenya, khususnya dalam gennya, sebagai naluri. Jadi, ketiga pilar ini saling berkaitan dalam membentuk kepribadian seseorang dalam pola tingkah laku dan tindakannya.

2.  Dengan cara membedakan antara wujud kebudayaan sebagai suatu sistem dari gagasan-gagasan serta konsep-konsep dan wujudnya sebagai rangkaian tindakan serta aktivitas manusia yang berpola, perbedaan itu atas tiga gejala kebudayaan, yakni : 1). Ideas, 2). Activities, dan 3). Artifacks. Semua unsur tersebut dapat di pandang dari sudut ketiga wujud masing-masing. Contohnya Universitas Idonesia, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi, universitas tersebut merupakan suatu unsure dalam rangka kebudayaan Indonesia sebagai keseluruhan.Universitas merupakan kebudayaan ideal yang terdiri dari cita-cita dan norma-norma untuk para karyawan, dosen dan mahasiswanya. Sebaliknya universitas juga terdiri dari suatu rangkaian aktivitas dan tindakan manusia saling berhubungan atau berinteraksi dalam melaksanakan kegiatan. Namun lepas dari itu,orang juga mengadakan penelitian tentang Universitas Indonesia tanpa memperhatikan hal diatas tersebut. Ia hanya memperhatikan Universitas Indonesia ini sebagai himpunan benda-benda fisik yang harus di inventarisasi.

3. Cara memaknai konsep migrasi, akulturasi, dan asimilasi dalam memahami masyarakat banjar yaitu menyangkut proses social yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertantu di hadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing lambat laun di terima dan di olah ke dalam kebudayaan itu sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Berbagai golongan manusia dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda, mereka bergaul secara intensif sehingga sifat khas dari unsur-unsur kebudayaan golongan-golongan itu berubah menjadi unsur kebudayaan campuran. Biasanya terjadi antara suatu golongan mayoritas dan golongan minoritas. Golongan minoritaslah yang berubah dan menyesuaikan diri dengan golongan mayoritas, sehingga sifat-sifat khas dari kebudayaannya lambat laun berubah dan menyatu dengan kebudayaan golongan mayoritas. Dari sini kita bias memahami masyarakat Banjar yang memiliki kebudayaan sendiri yaitu kebudayaan sungai, dimana para pendatang menyesuaikan diri dengan keadaan di lingkungan masyarakat banjar yang tidak lepas dari kebudayaan sungainya.

4. Karena dalam sudut pandang kebudayaan, kekayaan SDA tidak menjamin masyarakat mendapatkan tingkat kemakmuran yang memadai hal ini di sebabkan oleh kebudayaan yang berwujud gagasan dan tingkah laku manusia berasal dari otak dan tubunya, kebudayaan tetap berakar di dalam sistem organiknya. Kecuali itu, kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kepribadian individu yang terbentuk melalui suatu proses belajar yang panjang, sehingga menjadi bagian dari warga masyarakat bersangkutan. Dalam prose situ kepribadian atau watak individu berpengaruh pada perkembangan kebudayaannya. Pandangan ini di mantapkan dengan menggunakan sebuah kerangka yang memandang kebudayaan sebagai tindakan-tindakan manusia yang berpola ( kerangka teori tindakan ). Komponennya : Sistem Budaya, Sistem Sosial, Sistem Kepribadian, dan Sisitem Organisme.

5. Penyebab pokok guru susah melakukan penemuan-penemuan dan atau, penerapan penemuan-penemuan baru dalam pembaharuan pendidikan adalah tidak adanya kesadaran akan kekurangan dalam kebudayaan, tidak ada mutu dari keahlian dalam suatu kebudayaan dan kurangnya sistem perangsang bagi kegiatan mencipta.